Senin, 08 Juli 2013

Tak Disangka


Sesuatu yang tak pernah terbayangkan sebelumnya, aku mendaftar dan terpilih menjadi salah satu mahasiswa yang mengajar di daerah 3T. Aku yang selama ini dikenal di kampus sebagai anak bandel, nakal, suka terlambat masuk kelas, dan tak bisa diatur ikut SM-3T??? Banyak teman-teman bahkan dosenku pun tak percaya. Bagaimana bisa percaya? Dulu, sewaktu ku masih menjadi seorang mahasiswa, ku terkenal sebagai master gadget (untuk kalangan teman-teman di kampus saja kok). Apapun kendala yang teman-temanku alami pada gadget terbarunya, selalu mereka tanyakan kepadaku. Mulai dari handphone, laptop, sampai printer. Aku pun terkenal Raja online (meski cewek, tapi kebanyakan teman-temanku berpendapat kalau aku adalah cowok, karena tingkah lakuku yang kata mereka lebih seperti cowok daripada cewek pada umumnya).
Lalu, hal apakah yang membuat seorang yuli ratna sari ini ingin ikut menjadi peserta SM-3T?? Secara daerah 3 T (Terdepan, Terluar, Tertinggal) gitu loh....
1.      Terdepan, yaitu daerah Indonesia yang paling depan, alias yang paling dekat dengan negara lain (daerah perbatasan).
2.      Terluar, yaitu daerah Indonesia yang paling luar, jauh dari ibukota.
3.      Tertinggal, yaitu daerah yang ketinggalan zaman banget.
Intinya klo ada seseorang yang niat ikut SM-3T harus, wajib ain hukumnya, siap untuk jadi orang ndeso, pokoknya paling nduesooo (desa banget)). Nah, itulah sebabnya banyak orang-orang disekitarku yang menganggap bahwa ku tak bisa atau bahkan ada seseorang temanku yang bilang “Imposible kamu li, klo kamu harus hidup dengan segala keterbatasan kayak gitu” alias GAG MUNGKIN.
Ok, mungkin itu tidak mungkin sob, tapi nyatanya? Sekarang saya sudah menjalaninya. Dan saya sudah buktikan bahwa Yuli Ratna Sari, putri bungsu dari ayah dan bunda ku ini bisa menjadi orang yang mandiri, bahkan di daerah yang 3T sekalipun, dan insya Allah saya akan jadi guru profesional. Amin...
Mau tahu lebih lengkap bagaimana cerita kehidupanku Sumba Timur?? Silakan baca judul yang lainnya y..;-)

Kamis, 09 April 2009

Gempa Susulan di L'Aquila Terasa Sampai Roma

[ Kamis, 09 April 2009 ]
Gempa Susulan di L'Aquila Terasa Sampai Roma


Kelompok Badut Turut Datang Menghibur

L'AQUILA - Derita warga L'Aquila terus bertambah. Kemarin (8/4) gempa susulan berkekuatan 5,6 skala Richter menyebabkan ambruknya dua blok apartemen di kota yang telah luluh lantak akibat gempa dahsyat pada Senin lalu (6/4) tersebut.

Jumlah korban meninggal pun menembus 250 orang, 11 di antaranya belum bisa diidentifikasi. Sedangkan dari 1.000 orang yang luka-luka, yang dikategorikan serius mencapai 100 orang. Lalu 15 orang juga dinyatakan hilang dan 10.000-15.000 gedung hancur.

Gempa susulan yang terjadi sekitar pukul 03.30 waktu setempat itu memicu kepanikan luar biasa di antara para pengungsi dan tim penyelamat. Sirene polisi dan alarm tanda bahaya pun langsung terdengar di seantero ibu kota Provinsi Abruzzo yang berpenduduk 70.00 jiwa tersebut.

Getaran gempa susulan juga bisa dirasakan sampai ke Roma, sekitar 110 kilometer dari kota pegunungan itu. Akibatnya, seorang pria berusia 76 tahun di ibu kota Italia tersebut meninggal karena serangan jantung. Menurut Badan Geofisika dan Vulkanologi Nasional Italia, sejak gempa Senin lalu yang berkekuatan 6,3 skala Richter, total sudah terjadi 430 gempa susulan. Kemarin merupakan gempa susulan yang terkuat.

"Di dua hari terakhir, saya hanya bisa tidur tiga jam sehari. Saya sangat lelah secara fisik dan mental akibat kurang tidur dan takut akan gempa susulan," ujar Ilaria Ciani, salah seorang warga yang tinggal di kamp pengungsian, kepada Reuters.

Sekitar 50.000 warga L'Aquila dan sekitarnya kehilangan tempat tinggal akibat serangkaian gempa terburuk di Italia selama 30 tahun tersebut. Menurut Associated Press, jumlah itu telah menurun menjadi 17.000-25.0000 karena banyak yang telah ditampung teman atau kerabat.

Selasa malam (7/4) waktu setempat, tim penyelamat juga berhasil menyelamatkan dua di antara empat mahasiswa penghuni asrama Universitas L'Aquila yang dilaporkan hilang. Salah seorang yang selamat itu mahasiswi yang terkubur reruntuhan asrama selama 42 jam. "Mukjizat" itu tak pelak membuat tim penyelamat bahagia. Mereka serentak bertepuk tangan ketika melihat si mahasiswi masih bernapas.

Sayangnya, mahasiswa ketiga yang ditemukan esok paginya (8/4) sudah dalam keadaan meninggal. "Usaha penyelamatan seperti ini sama berharganya dengan enam bulan kerja di hari-hari biasa," kata Sergio Basti, kepala tim penyelamat dari Roma.

Ratusan relawan yang berdatangan dari berbagai kota di Italia tak hanya mengandalkan peralatan mekanik untuk mencari korban atau membersihkan reruntuhan. Mereka juga menggunakan tangan kosong. Sementara, Pemerintah Italia di bawah komando Perdana Menteri Silvio Berlusconi telah mendirikan 20 kamp pengungsi bertenda dan 16 dapur umum yang melayani 14 ribu orang.

Hancurnya L'Aquila dan wilayah sekitarnya memaksa Berlusconi berusaha menarik dana ratusan euro milik Uni Eropa. Dana tersebut memang disiapkan Uni Eropa untuk para anggota yang diterpa bencana alam. Namun, Berlusconi menegaskan bahwa negaranya tidak membutuhkan bantuan internasional untuk membangun kembali L'Aquila. Ini mungkin karena utang luar negeri Italia saat ini sudah menumpuk. Tapi, kubu oposisi mendesak pemimpin 72 tahun itu untuk mengubah sikapnya.

Sementara itu, bantuan pascabencana untuk para korban tak hanya berupa materiil, tapi juga penyembuhan psikis. Misalnya yang dilakukan Francis Calsolaro dan 10-50 orang dari kelompoknya yang kemarin datang menghibur sebagai badut. Mereka berasal dari Milan.(war/ttg)